Aku akan Menerima dan Percaya pada “Diriku”

Jam tanganku menunjukan pukul 2.30 dini hari, aku masih duduk di depan laptop di restorant cepat saji di dekat rumah sedari kemarin sorenya, mengerjakan revisi proyek development perangkat lunak untuk sebuah institusi swasta yang aku tangani sejak beberapa bulan belakangan ini. Berniat untuk mencari inspirasi, untuk menemukan solusi atas teka-teki logika yang harus aku pecahkan, aku kemudian memesan segelas es kopi dan duduk sambil mendengarkan lagu-lagu yang sedari tadinya berputar berulang-ulang dari notebook di depanku. Aku memperhatikan sekeliling, melihat suasana sekitar yang agaknya sepi karena waktu yang sepertinya sudah terlalu larut untuk beraktifitas. Aku menyukai suasana seperti ini, hening, tenang dalam damai, tidak seperti siang hari yang hiruk pikuk.

Dalam perhatianku, aku baru menyadari hanya tinggal aku dan dua pengunjung lain yang masih bertahan di restoran cepat saji ini. Mereka berdua siapa? Apa aku mengenalnya? Kenapa mereka mengenakan pakaian untuk sembahyang? Apa hari ini ada hari suci? Sepertinya mereka berdua sepasang kekasih, dan sepertinya mereka berdua sangat bahagia.. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul seketika dalam pikiranku, jika aku sedang tidak melakukan apa-apa aku memang suka memperhatikan sekelilingku, mengamati apa yang terjadi, atau belajar dari itu semua.

Aku memperhatikan dari kejauhan, di sudut yang berseberangan, cukup jauh namun cukup untuk bisa memperhatikan dan mendengarkan. pada awalnya ini bukan sebuah kesengajaan, namun karena suara dari sang pria kebetulan sangat mirip dengan teman baik dari bapak, pada akhirnya aku memutuskan untuk memperhatikan mereka. Mungkin ini terlihat seperti kebiasaan yang buruk, tapi percayalah tidak demikian adanya.

Mereka berdua adalah pasangan yang bahagia pikirku, mereka berbicara satu sama lainnya dengan apa adanya. Menunjukan perhatian dengan apa adanya, tidak kurang namun tidak juga berlebih. Meskipun berbicara dalam bahasa daerah, percakapan mereka terasa seperti sangat alami. Seperti percakapan antara saudara, atau percakapan antara bapak dengan ibu. Aku juga menyukai intonasinya dan mimik mereka berdua. Benar-benar alami. Mereka terasa mengalir, dan aku merasa aku kehilangan sisi ini dalam diriku.

Aku merasa sangat beruntung hari ini, ada banyak hal baik yang aku dapatkan. Kemarin adalah perayaan kemerdekaan Indonesia, tanah air tempat aku dilahirkan. Aku merasa aku belum menjadi sosok yang berguna untuk lingkungan ku, apalagi negara ku. Ada banyak kekuruangan yang aku punya, dibandingkan kelebihan yang bisa aku bagi, pikirku. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku ingin memperbaiki banyak hal, dan ingin menjadi lebih berguna, pikirku.

Tidak membiarkan aku larut dalam penyesalanku, Mahatma kemudian menghiburku, menjelaskan banyak hal kepadaku, bahwa tidak baik jika aku terlalu keras kepada diriku sendiri, bahwa tidak baik jika aku mengutuk diriku sendiri. Ada banyak hal yang dia bagi kepadaku, seperti biasanya, dia tidak membiarkan aku larut dalam pikiran negatif yang mengelilingiku. Jika kabut itu mulai menyelimutiku, dia akan menyalakan dian untuk menerangiku, seperti biasanya.

Dari pasangan yang aku temui tadi, dan pesan Mahatma hari ini, aku melihat apa yang sepertinya hilang dalam diriku selama ini. Aku kehilangan diriku sendiri. Aku terpenjara dalam batasan-batasan yang aku buat sendiri dari pikiran-pikiran negatif yang aku rangkum berdasarkan pengalaman hidup yang aku dapatkan. Ini tentang masa dimana aku harus menghadapi bagaimana manusia menentukan derajad manusia lainnya, atau tentang aku yang harus berhadapan dengan kebijaksanaan yang palsu atau tentang bagaimana yang kuat memakan yang lemah. Cobaan yang terlalu sering, mungkin bisa mengasah seorang individu menjadi lebih tajam, tapi kalau terlalu seing kadang malah mengikis psikisnya.

Sepertinya hari ini aku menyadari bahwa aku selama ini terlalu takut untuk menghadapi dunia yang agaknya seperti rimba penuh bahaya. Jadi aku menebalkan jubah jirah yang aku kenakan, sampai pada akhirnya membatasiku  untuk bergerak bebas dalam perjalananku. Ini rasanya sangat berat, alih-alih untuk melindungi diri, ini membuatku tidak dapat bergerak, lalu jika ada bahaya yang datang, bagaimana aku akan menghadapinya? berlindung dengan persona ini? iya, sepertinya itulah yang aku lakukan selama ini. Itu hal yang tidak baik.

Lalu kapan aku akan sampai pada tempat tujuanku?

Sesegera mungkin aku harus melepas jirah ini, menyerang adalah pertahanan terbaik bukan. Tapi bukan itu intinya, ini adalah tentang melepaskan kekhawatiran dan berfokus pada apa yang ingin dicapai. Setiap orang punya rasa takut terhadap hal-hal tertentu, mengetahui rasa takut ini adalah hal yang baik, tetapi sepertinya akan lebih bijaksana untuk tidak larut di dalamnya.

Aku harus menerima diriku dan percaya pada diriku,
aku harus bisa melepaskan diri kekhawatiran yang selama ini mempengaruhiku,
agar aku bisa menjadi lebih dari aku yang sebelumnya..

 

tentang hari ini kepada diriku di waktu ini:
hari ini aku  mendapat banyak pelajaran,
hari ini aku juga dapat banyak solusi
untuk projek yang sedang aku kerjakan,
seandainya bisa, aku ingin menyelesaikannya hari ini,
kalau misalnya tidak bisa,
aku ingin berterimakasih untuk pencapaian hari ini.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *