Anak bukan Investasi tapi Tanggung Jawab

Anak adalah investasi masa depan, begitulah beberapa individu berpendapat, dan tidak sedikit sepertinya. Entah bagaimana mereka memandang, namun ini menjadi pandangan yang terlihat bijaksana di masyarakat. Para orang tua kemudian berlomba-lomba untuk menginvestasikan masa depan mereka kepada anak yang mereka miliki. Apakah ini hal yang baik? Investasi sepertinya istilah yang biasanya digunakan oleh para pelaku ekonomi untuk menilai untung dan rugi yang bisa mereka dapatkan dari masa depan untuk diri mereka. Perhitungannya selalu untung atau rugi, bukankah hidup tidak sesederhana itu. Sepertinya tidak baik untuk menghitung masa depan dari seorang anak berdasarkan untung dan rugi yang akan ia dapatkan, dan lebih tidak baik lagi jika perhitungannya adalah tentang untung dan rugi yang akan kita dapatkan sebagai orang tua. Hidup sepertinya tidak hanya tentang keuntungan atau kerugian.

Alih-alih menggantungkan masa depan pada anak dengan menganggapnya sebagai investasi masa depan, bukankah setiap mahluk yang hidup berhak menentukan hidupnya sendiri. Dengan menganggap anak sebagai investasi, orang tua telah membebankan tanggung jawab masa depan mereka kepada sang anak. Bukankah kita punya tanggung jawab sendiri atas hidup yang kita punya. Bagaimana mungkin kita membebankan kepada ia yang baru saja mengenal dunia. Sedangkan kita sudah leh dahulu mengenal bagaimana dunia dan isinya berinteraksi satu dengan lainnya.

Terkadang dengan menghitung untung atau rugi, orang tua secara tidak langsung akan ikut menentukan arah kehidupan sang anak. Memilihkan ia yang terbaik, meski dengan cara yang mungkin tidak baik. Namun, tidak semua demikian, layaknya investasi terkadang perekonomian sebuah keluarga tidaklah selalu baik. Untuk keluarga yang ekonominya jauh dari kata cukup, mereka menginvestasikan masa depan anak-anak ke pendidikan dengan pembebanan tanggung jawab membantu mengurus beban rumah tangga kepada anak. Tidak ada yang salah dengan itu jika porsinya seimbang, anak-anak bisa belajar dari pengalamannya membantu di rumah, ia bisa mendapat pengalaman dan keterampilan dari sana. Tetapi terkadang karena merasa terlalu nyaman, manusia kadang melupakan bahwa setiap hal sebaiknya seimbang.

Anak adalah tanggung jawab kita kepadanya agar ia bisa bertanggungjawab kepada dirinya sendiri untuk tetap hidup saat kita sudah tidak lagi bernafas. Maka sangat penting untuk memahami tanggung jawab sebagai orang tua sebelum ia dihadirkan di sisi kita. Maka sangat penting untuk memberikannya pengetahuan dan pengalaman agar ia bisa bertahan hidup, bukan untuk masa depan kita sebagai orang tua, tapi untuk masa depannya sebagai anak dan sebagai calon orang tua untuk generasi berikutnya. Dengan umur yang begitu singkat, hidup bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Memberikannya pengalaman membuatnya bisa tetap bertahan dan berdiri disaat ia dijatuhkan oleh kehidupan. Memberikannya pengalaman membuatnya tetap bisa makan, meski kita sudah tidak ada untuk bisa memasak untuknya atau makan bersamanya. Memberikannya pengalaman membuatnya mengerti tentang prinsip, tentang kebaikan dan ketidak baikan, membuatnya mengerti bahwa meski ia berjalan dijalan kebaikan terkadang ia harus berjalan sendiri dan jalannya tidak selalu mudah. Jika ia sanggup bertahan dan memahami esensinya, ia kemudian dapat mewariskan prinsipnya sebagai pelajaran utnuk generasi berikutnya, atau sebagai pelajaran untuk dirinya sendiri.

 

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *