Apa Cita-cita Mu ?

Saat ini, ketika hendak mencoba untuk tertidur, mata ku seperti sulit untuk dipejamkan, bersama pikiran yang berjalan ke antah berantah. Aku moncoba memejamkan mata beberapa kali, namun pikiranku pun tidak mengijinkannya berulang kali. Pekerjaan, Pendidikan, Keluarga, Masa Depan, semua itu sepertinya tidak menginjinkan untuk beristirahat saat ini. Aku kemudian menghening, dan mencoba menuliskannya ketika baru saja aku menyadari pikiran ku berlabuh di pelabuhan pertanyaan yang bernama “Cita-cita”

“Apa cita-cita mu?” dalam ingatan ku, pertanyaan itu pertama kali aku dengarkan ketika aku berumur 9 tahun, saat duduk di kelas 5 SD, lima belas tahun yang lalu. Saat itu wali kelasku Bapak Subrata, yang pandai mendongeng, menanyakan itu kepada setiap anak-anak didiknya di kelas. Aku heran teman-teman ku sepertinya bisa menjawabnya dengan sangat mudah, penuh keyakinan dan sepertinya sangat menyenangkan punya cita-cita. Sementara aku, saat itu aku baru mengenal kata itu, iya aku baru mengenal “cita-cita” di hari itu. Ketika pertanyaan itu dilemparkan kepada kami, aku berpikir keras untuk menemukan jawabannya, aku tidak tahu apakah teman-teman ku juga merasakan perasaan yang sama, ketakutan yang sama seperti yang aku rasakan. Saat itu aku berpikir, apakah cita-cita yang aku ucapkan hari ini adalah sebuah perjanjian yang harus aku tepati di masa depan? Bukan kah itu terlalu berat untuk kami, untuk membuat perjanjian sementara kami tidak tahu masa depan memberikan kami kepastian atau tidak. Apa boleh anak dari keluarga sederhana-nyaris tidak berpunya seperti ku untuk punya sebuah cita-cita? Apa cita-cita yang aku inginkan tidak terlalu mahal untuk keluarga ku, ibu dan bapak, adikku juga harus bersekolah. Apakah memilih cita-cita sesederhana kita mengucapkannya? Aku ketakutan, ragu-ragu dan kebingungan untuk memilih akan menjadi apa aku suatu nanti.

Jadi saat itu aku mencoba untuk memperhatikan setiap jawaban yang dikatakan oleh teman-teman ku yang ditanyakan lebih dahulu oleh wali kelasku. Saat itu aku duduk di deret bangku paling depan, di meja yang menempel di tembok tepat di sebelah pintu kelas kami. Pasangan sebangku ku namanya Bayu Satria, sedangkan di belakangku ada Dian Agustiawati yang berpasangan dengan Reza dan Adhi Suarjana yang berpasangan dengan Surya Dharma. Aku bertanya kepada mereka, Bayu ingin menjadi polisi, Dian dan Adhi ingin menjadi seorang guru, sedangkan Reza ingin menjadi dokter, sementara Surya ingatanku tidak cukup kuat untuk menjangkaunya, ini seperti ironi mengingat dia adalah sahabat terbaik yang aku punya saat itu. Aku bertanya kepada mereka, memastikan apakah memang tidak apa-apa untuk menjawab sebisanya? Apakah benar-benar tidak apa-apa jika aku mengubah cita-cita ku suatu nanti? Mereka berhasil meyakinkan aku bahwa iya, aku boleh mengubahnya. “Santai saja” kata mereka, aku hanya tinggal mengucapkannya dan pertanyaan itu akan berlalu begitu saja menghampiri yang lainnya. Jadi apa cita-cita ku saat itu? “Ingin jadi Astronot pak” jawab ku berusaha meyakinkan. Saat itu ada yang mengucapkan ingin menjadi pilot, jadi aku berpikir bukankah lebih menyenangkan menjadi astronot, bisa melihat bumi seutuhnya, juga bintang-bintang dan matahari, bulan dan planet-planet. Aku adalah pengagum berat dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di masa itu. Lalu bagaimana dengan teman-teman yang lain? Mereka semua punya cita-cita yang mengagumkan, sebagian besar ingin menjadi dokter dan guru, kemudian ada yang ingin menjadi polisi, ada yang ingin menjadi pilot atau pelaut, ada juga yang ingin jadi penari, dan mungkin lebih beragam dari yang aku sebutkan di sini. Setelah itu apa yang terjadi? hari-hari berjalan seperti biasanya, benar-kata teman-teman ku pikirku, itu adalah pertanyaan yang menghampiriku, yang kemudian aku cukup menjawabnya, dan pertanyaan itu pun kemudian akan menghampiri yang lainnya,

Empat tahun kemudian, pertanyaan itu muncul kembali. Saat itu aku sedang duduk di kelas 3 SMP, disebuah SMP favorit di Denpasar, tempatku terdampar secara tidak sengaja, yang kadang terasa seperti sebuah keberuntungan namun disaat yang bersamaan juga terasa seperti sebuah ketidak beruntungan. Tiga tahun ini sepertinya aku belajar banyak tentang kenyataan hidup, tentang perjuangan dan bagaimana bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk bisa bersekolah di salah satu sekolah impian kata mereka. Sesunggunya aku memilihnya hanya karena itu adalah sekolah negeri yang paling dekat “ke dua” dari rumah ku, mungkin tidak terlalu dekat sesungguhnya, karena aku harus mengayuh sepeda atau berjalan sambil menarik sepedaku yang kadang rusak sepanjang 6 Km perjalanan. Kebetulan SMP ini juga tempat Ibu ku bersekolah dulu, jadi terkadang ini menjadi nostalgia untuk Ibu.

“Bapak ingin tahu, apa cita-cita kalian” kalimat yang agaknya familiar itu dipertanyakan kembali kepada ku. Entah siapa yang menanyakannya saat itu, Bapak Suryawan yang menjadi Guru Bahasa kami, atau Bapak Benny Suwendra yang menjadi Guru Biologi kami di kelas 3 SMP saat itu. Kali ini aku menjawab dengan sedikit pengalaman tentang kerasnya hidup bersama sedikit pengharapan untuk masa depan yang lebih baik, juga untuk menghibur diri karena sudah kenyataan bahwa aku mungkin tidak bisa seberuntung teman-teman yang lain untuk menikmati dunia kuliah seperti apa, terpikir pun tidak, yang ada dalam pikiran ku saat itu adalah tentang bagaimana aku bisa menghasilkan uang yang cukup banyak, mandiri, agar bisa membantu perekonomian keluarga. Aku menjawab “Saya ingin menjadi Dokter Bedah Pak”, aku mengatakannya dengan penuh keyakinan, dan disaat yang sama aku juga telah yakin untuk mengubur cita-cita itu. Setelah mengatakannya, aku tertawa bersama teman-teman ku. Oiya, aku menemukan seorang sahabat di masa itu, yang selalu membantu ku melewati masa-masa sulit, yang memperkenalkan ulang tahun itu seperti apa kepada ku, yang selalu membagi makananya kepada ku, teman belajar yang baik, teman cerita yang menyenangkan, teman yang meyakinkan aku – yang percaya bahwa aku punya kelebihan, namanya Eka Pujanta. Saat itu dia mengatakan bahwa dia ingin menjadi seorang dokter, iya cita-citanya menjadi seorang dokter, dan hari ini, saat aku menulis ini dia telah menjadi seorang dokter, sebuah cerita yang membahagiakan.

Dari SMP cerita ini kemudian berjalan menghampiri masa-masa SMK yang putih abu-abu.  Mungkin tidak se-berwarna anak-anak yang masuk SMA, tapi setidaknya ini cukup memberi warna untukku. Aku mengambil Jurusan Elektronika dengan harapan aku bisa membuka bengkel service di rumah bersama mimpi untuk menjadi seorang ilmuan (yang aku mengerti bahwa itu hanya sebuah mimpi). Jadi apa cita-cita ku? Entahlah, yang aku tahu aku bisa menjadi seorang teknisi elektronika dan mendapatkan uang dari sana. Berita baik di akhir masa SMK ini, setelah tiga perjuangan untuk menjadi lulusan siap kerja, aku diberikan kesempatan untuk mengenyam bangku kuliah. Sekali lagi, ini adalah sebuah keberuntungan bagi ku, mungkin yang teramat sangat. Seorang teman baik mengajak ku mendaftar kuliah di sekolah tinggi komputer di Bali, ini adalah sekolah swasta pertama ku dan orang tua ku mengijinkan – aku pun mendaftar. Jika anak-anak SMA di jaman itu mendaftar ke universitas favoritnya, aku mendaftar dengan pertimbangan dekat dengan rumah (lagi) sehingga bisa mengurangi biaya untuk bensin atau pun biaya untuk tinggal di rumah kost ala mahasiswa. Ini mengagumkan… teriakku dalam pikiran ku, aku menjadi seorang mahasiswa, aku mahasiswa katanya – entah apa definisinya saat itu aku belum mengerti, tapi aku sangat bersyukur untuk kesempatan belajar ini, jadi aku berjanji untuk belajar sebaik-baiknya.

Dan pertanyaan itu kembali muncul di akhir perjuangan untuk menjadi seorang sarjana, tepat saat mengakhiri sidang skripsi. Aku ingin menjawab, “Terimakasih banyak untuk mimpi ini, untuk sebuah pengharapan yang baru, yang tidak pernah berani dimimpikan sebelumnya.” Namun, aku hanya sanggup mengatakan, “Rencananya saya akan mengembangkan sistem ini agar bisa menghasilkan uang untuk saya nantinya. Saya ingin…” bersama sebuah senyuman kecil.

Impian itu mahal, semahal waktu dan juga pendidikan. Tidak hanya perlu keberanian, tetapi juga kerja keras. Impian itu seperti cahaya harapan ditengah gelap yang antah berantah. Meski tidak pasti seperti halnya hari esok, tapi kepercayaan akannya membuat setiap individu yang mempercayainya bisa bertahan untuk hidup. Iya, Impian adalah salah satu alasan untuk bertahan hidup, meski hidup tidak pernah mudah.

“Jadi, apa cita-cita ku?” pada akhirnya aku hanya ingin megatakan bahwa  “aku punya impian, aku punya cita-cita dan aku akan berjuang untuknya“. Aku belum bisa menceritakannya, setelah mengetahui bagaimana dunia kerja bekerja, bagaimana dunia pendidikan mendidik ku. Juga tentang kenyataan akan idealisme sebuah rotan, dan tentang matematika yang bertentangan dengan sosiologi. Maka, aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri,  sampai saat ini aku pastikan aku memiliki cita-cita, namun aku pun mengerti aku harus merahasiakannya, hingga nanti ia menjadi kenyataan. Karena itu adalah hal yang sangat berarti, dan aku cukup mengerti bagaimana rasanya menguburnya dengan tangan ku sendiri. Maka, aku putuskan untuk memperjuangkannya, tanpa mengatakannya.

Satu hal lain yang aku pelajari, “Cita-cita itu hidup, meskipun harus terkubur sebelumnya, dengan harapan dia akan menumbuhkan tunas baru, dan bersemi bersama kita jika kita terus memperjuangkannya.

“Jadi, Apa cita-cita Mu?”

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *