Catatan Kuliah tentang Nilai Merah Pertama

Hari ini aku kuliah seperti biasa, bersama rasa bosan dan rasa tidak terima yang amat sangat. Semester ini adalah semester kedua aku kuliah, dan sampai saat ini aku belum bisa menyeimbangkan antara waktu bekerjaku dan waktu belajarku untuk kuliah. Selalu berbenturan seperti biasanya, ada saja yang harus aku tinggalkan, dan apa pun itu “sungguh aku tidak bermaksud untuk meninggalkannya”. Karena pekerjaan yang aku geluti sekarang adalah cita-citaku dan pendidikan adalah kebutuhanku.  Aku sering mengeluh karena pekerjaanku mengambil waktu terlalu banyak, hingga aku sering terlambat mengupulkan tugas-tugas kuliahku. Aku juga sering mengeluh bahwa ada terlalu banyak tugas kuliah, sementara waktu untuk memahami materi perkuliahan dan waktu untuk mengerjakan tugas terlampau sedikit. Haa….h…… aku menghela nafas lagi.

Setiap mengikuti perkuliahan aku selalu merasa tidak nyaman. Kadang aku iri kepada teman-teman yang terlihat bisa memahami dengan mudah. Dalam hati aku berteriak “Kenapa hanya aku yang bodoh di sini, kenapa sepertinya hanya aku yang susah mencerna semua ini? Tuhan aku bisa, mungkin aku bisa seperti teman-temanku, sepintar mereka, tapi berikan aku kesempatan untuk belajar, aku ingin belajar, aku suka belajar, tapi waktu ku.. ”  Aku kembali mengeluh.

Semester ini aku sangat sering terlambat mengumpulkan tugas, bahkan di mata kuliah yang topiknya aku sukai. Aku terlalu egois, aku terlalu yakin dengan prinsipku – bahwa aku ingin menyelesaikannya dengan tanganku. Atau paling tidak aku pernah mencobanya sekali, agar aku mengerti meski aku harus gagal. Ini membuat pekerjaanku atau tugas kuliahku menumpuk, dan pada akhirnya tidak menghasilkan sesuatu hal yang membanggakan di mata dosen pengajarku. Karena aku tetaplah mahasiswa yang selalu terlambat mengumpulkan tugas-tugas kuliahku – tidak lebih.

Aku bukan orang yang mudah menerima kenyataan bahwa ada individu yang terbiasa mendapatkan hasil yang baik dengan instant – usaha yang cerdas (menjiplak misalnya). Menurutku suatu proses diperlukan untuk mendapatkan suatu hasil Kita butuh perjuangan, itu yang aku pelajari sejak kecil dari hidupku, dari keluargaku. Setelah aku bercerita kepada bapak, bapak mengingatkan bahwa memang begitulah hidup. Bapak berpesan bahwa ada kondisi dimana aku harus bisa menjadi flexibel, ada kondisi dimana aku harus bisa bersikap tegas. Di zaman seperti sekarang, nilai di atas kertaslah yang dilihat kebanyakan orang – bukan prosesnya. Dan sepertinya memang aku yang salah, aku meletakkan kekakuanku di posisi yang salah, di kondisi yang salah.

Hari ini sepertinya aku belajar beberapa hal penting dalam hidupku. Hari ini adalah hari dimana aku diijinkan untuk melihat nilai hasil studiku. Aku membuka lembar-lembar nilai, berusaha menemukan lembar nilaiku di antara lembar-lembar nilai teman-temanku. Sesekali aku terkagum akan nilai teman-teman ku Ada yang mendapat nilai sempurna, dan dia memang pantas mendapatkannya atas perjuangan gigihnya selama satu semester. Sesekali aku harus mengehla nafas, menerima kenyataan bahwa kemungkinan untuk mendapatkan nilai yang baik dengan cara instan itu ada. Dan akhirnya aku menemukan lembaranku, aku menemukan nilai C pertamaku di raporku. Hahaha… aku tertawa dalam hati, aku tertawa sepanjang perjalanan. “Ini adalah kenyataan hidup bung” aku berbicara pada diriku sendiri.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ini sangat memalukan pikirku. Sesampainya di rumah, aku terdiam dalam heningku. Apa yang salah dengan ku? Alih-alih mengeluh, aku kemudian berusaha menerima kenyataan bahwa aku memang belum kompeten dalam mengelola waktu dengan baik. Tuhan selalu memberikan hal yang baik di setiap cobaan yang diberikan kepada ciptaannya – bukankah demikian adanya. Jadi mungkin Tuhan ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, mengajarkan sesuatu yang penting yang harus aku mengerti dalam hidupku – pikirku. Hari ini aku gagal, dan kegagalan adalah hal yang alamiah, itu yang ada dalam pikiranku (aku mencoba menghibur diri). Dan apa yang harus aku lakukan sekarang? Satu hal yang pasti, aku belajar dari kegagalanku dan aku harus memperbaikinya. Hidup adalah tentang proses belajar, jika aku gagal hari ini, maka perbaiki – jika gagal lagi maka perbaiki lagi, dan lagi. Sampai kapan? Sampai kegagalan menemukan  jalannya menuju keberhasilan. Dan satu hal yang pasti, aku akan mengambil remidi untuk matakuliah ini.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *