Catatan untuk Diri Sendiri

Hari ini sepertinya melelahkan, mungkin benar-benar melelahkan. Namun seperti sedikit bereda dari sebelum-sebelumnya. Aku baru saja pulang dari bekerja, duduk bersandar di sebelah tempat tidur. Ada banyak peristiwa yang terjadi belakangan ini, tentang pekerjaan, tentang kuliah, tentang keluarga, tentang perasaan. Sepertinya ada yang salah dengan ku. Kelelahan namun seperti tidak menyelesaikan apa pun. Dalam lamunan ku aku mulai memperhatikan sekelilingku. Kenapa kamarku berantakan seperti ini, tumpukan kertas-kertas kerja, dokumen-dokumen revisi yang seharusnya dirapikan, atau tumpukan pakaian yang harusnya segera dicuci. Apa yang salah dengan ku? Aku kemudian bercermin. Di depanku terpampang wajah seseorang yang sepertinya perlu belas kasihan. Seseorang yang berpakaian lusuh dengan wewangian peluh yang sudah mulai masam, dengan rambut berantakan, dan wajah yang sepertinya kebingungan dalam kesibukannya sendiri. Ada yang salah dengan ku?

Sepertinya aku bersalah karena telah mengabaikan diriku sendiri. Mungkin sebaiknya aku mulai belajar mencintai diriku sendiri. Mulai lebih mendengarkan keluhannya, juga lebih bersahabat dengannya. Bagaimana mungkin aku berharap dicintai, jika aku sendiri tidak mencintai diriku. Ada banyak mimpi yang harus diwujudkan, dan diri ini adalah yang paling setia berjuang bersama hati dan pikiran,  lebih dari seorang sahabat atau pasangan hidup.

Aku pernah berpikir, aku harus menjadi lebih dan lebih kuat lagi, agar aku bisa menolong lebih banyak orang yang ada disekitarku. Hingga suatu nanti aku bisa berbahagia bersama mereka. Tetapi, sepertinya apa yang aku pikirkan terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Kadang menjadi baik saja tidaklah cukup, sepertinya seberapa terkenal Anda menentukan seberapa besar usaha Anda diapresiasi.

Mungkin ini seperti – Jika anda adalah orang biasa yang terpinggirkan melakukan hal-hal di luar kebiasaan kebanyakan orang – Anda akan dianggap sebagai orang aneh. Namun, jika Anda adalah bagian dari kaum Jet set, maka kebiasaan Anda yang aneh bisa menjadi trend center yang diikuti banyak orang. Popularitas lebih dibutuhkan daripada menjadi apa adanya.

Membantu itu baik, tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri. Ini membuat aku mengerti bahwa berjuang bersama sebuah harapan akan menjadi lebih mudah dibandingkan dengan berjuang namun tidak diharapkan. Karena ketika aku terluka, aku harus mengobatinya sendiri, menyemangati diriku sendiri, untuk kemudian berdiri sendiri.

Mungkin sudah waktunya aku membersihkan badan dari peluh yang menyatu dengan pakaian lusuh ku, Mencuci pakaian-pakaian kotor yang sudah lama menumpuk. Merapikan kamar tidur yang sudah lama tidak terjamah.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *