Kebenaran dari Hasrat dan Kebenaran Sejati

Sebatang lidi mudah tuk dipatahkan, seikat lidi tidak terkalahkan. Seperti  gambaran atas kaum mayoritas yang terlihat punya kekuatan lebih dibanding kaum minoritas.

Kekuatan katanya datang bersama tanggung jawab. Namun, tidak banyak yang ingat akan pertanggung jawaban, entah karena tidak tahu, atau pura-pura lupa.

Kebenaran ada dua jenisnya berdasar atas bagaimana ia lahir. Kebenaran sejati yang lahir dari kejujuran dan kebenaran yang lahir dari hasrat manusia yang mana sifat kebenaran ini sama seperti manusia yg menciptakannya. Kedua kebenaran ini berbeda, yang sejati akan membangun, yang satunya membinasakan.

Ketika kekuatan besar yang bersumber dari mayoritas yang tidak terkendali bertemu dengan kebenaran yang tercipta dari hasrat manusia yang juga tidak terkendali, ia melahirkan kehancuran di setiap sentuhannya. 

Mayoritas dan minoritas adalah ukuran-ukuran yang diciptakan manusia. Kadang digunakan untuk mengelompokkan manusia atau mengkotak-kotakan manusia lainnya. Jadi, ada beragam jenisnya. Ada mayoritas atas penduduk yang miskin atau mayoritas atas masyarakat berpendidikan rendah, dan mayoritas di bidang-bidang lainnya. 

Tetapi, dengan jumlah yang sedemikian banyak, kenapa manusia lebih suka berkompetisi dengan manusia lainnya. Kenapa mayoritas penduduk miskin tidak saling bantu satu sama lainnya. Atau belajar bersama agar jadi kaum terdidik bersama-sama. Jika saja diupayakan, bahagia bersama-sama itu mungkin, dan indah.

Jika kekuatan besar digunakan sewenang-wenang. Ini tidak benar, bukankah setiap mahluk hidup harusnya saling mengasihi? Kenapa kaum mayoritas tidak mengupayakan perdamaian dengan kekuatan besar yang ada padanya?

Mungkin inilah ketidak benaran, adalah kebenaran yang lahir dari hasrat manusia yang tidak dalam pengendaliannya, dan ia membiarkannya. 

Maka, jika demikian, ketika ketidak benaran menjadi menjadi semakin besar, semesta punya caranya sendiri yang khas untuk menyeimbangkan setiap hal yang ada di dalamnya. Pada waktunya akan tiba saatnya kaum minoritas menjadi mayoritas, masa kejayaan atas ketidak benaran berganti menjadi masa kejayaan atas kebenaran sejati. Menyatukan keberagaman dalam harmoni. Bhinekka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *