Lembaran Halaman dari Papan Permainan Kehidupan

Latar belakang di masa lampau membentuk pribadi di masa ini untuk menggapai tujuan dimasa mendatang. Ada yang menjadi persona yang yang dianggap terlalu rumit untuk dipahami, ini mungkin karena latar belakang kehidupannya yang keras dan tidak biasa. Ada yang selalu mudah untuk mengambil keputuusan, namun kadang juga mudah untuk menghakimi individu lainnya. Ada juga yang meskipun dia harus bekerja keras untuk bisa sedikit berbahagia, ia tetap ikhlas membagi kebahagiaanya dengan yang lain.

Masa-masa yang lalu telah mengajarkan bagaimana seorang individu untuk bertahan dari seleksi alam. Yang kuat bertahan, yang lemah berguguran. Saling membangun atau saling menjatuhkan. Sahabat makan lawan, teman juga bisa makan kawan. Meski hidup bukan perlombaan, tapi untuk bertahan hidup semua bisa jadi rintangan. Sekelumit aturan sederhana yang tidak tertulis di papan permainan kehidupan.

Manusia bermain peran dalam kehidupan. Seorang manusia membawakan lebih dari satu peran. Sebuah peran kadang perlu beberapa persona. Karena terlalu banyak persona yang dimainkan oleh tidak sedikit manusia, rupa asli tidak ada lagi yang peduli. Ia kemudian luput, menhilang diantara keramaian persona yang berhiruk pikuk. Jujur namun tidak dipercaya, apa adanya namun disangka ada apanya, kemana ia harus pergi? Bagaimana ia harus bersikap?

Memahami manusia tidak cukup hanya dengan menerima apa ia hari ini dan akan menjadi apa ia esok. Meskipun kaum pecinta dewasa ini mengungkapkan bahwa hari ini lebih penting daripada apa ia dimasa lalu, tapi benarkah demikian. Seorang pengemis cinta pernah mengatakan bahwa hari ini tidak pernah ada tanpa hari kemarin, maka hargai masalalu sebagaimana menghargai hari ini sebagai awal yang menentukan dari masa depan. Sungguhkah itu berlebihan? Coba renungkan, apakah kita bisa menyimpulkan baik buruknya sebuah cerita jika kita tidak membacanya dari awal? Bagaimana kita bisa memutuskan untuk melanjutkan membaca halaman berikutnya atau tidak  jika kita tau bagaimana halaman yang lalu bercerita. Maka saat itu, kita butuh jiwa yang besar, dada yang lapang, dan hati yang ikhlas untuk bisa memahami setiap halaman yang lalu, baru kemudian cerita tersebut menjadi sosok yang lengkap dan hidup menjadi dirinya sendiri. Dan kita sebagai pembacanya mungkin akan ikut larut dalam ceritanya, kemudian menyimpannya dalam ruang istimewa, atau membuatnya menjadi impian dan memperjuangkannya agar menjadi nyata.

 

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *