Mei untuk Banda Neira

Di penghujung April lalu aku diperkenalkan dengan Banda neira oleh seorang teman, Cahyani Pratiwi sang penulis Sebatas Coretan. Aku tidak tahu kalau baris-baris akhir tulisannya adalah sebait sajak puisi, sajak Banda Neira pertamaku. Baris-baris ini bagus, pikirku. Aku mengulangnya, menjadikannya sebuah komentar sederhana yang cukup aku mengerti.

“Rumah kosong, sudah lama ingin dihuni.
Adakah teman bicara, siapa saja atau apa.
Jendela, kursi, atau bunga di meja.
Sunyi. Menyayat seperti belati.” 

 

Aku tidak berharap untuk tahu bahwa ini adalah sebuah lagu. Ini hanya sajak biasa, yang menarik pikirku pada mulanya. Entah kenapa atau bagaimana, mungkin karena aku mengulang sajak itu sebagai sebuah komentar, Cahyani kemudian berkata:

“coba diputar lagunya kakak, rasakan sensasinya ~”

 

Lagu ? sajak ini, lirik sebuah lagu ? cepat-cepat aku mencari, berusaha menemukannya di tumpukan-tumpukan pencarian yang tidak aku kenal, menelisik tiap tautan untuk mendapatkan kabar bahwa aku menemukannya. Aku aku mencoba mendengarkan, memperhatikan tiap baris sajak yang sedari tadi menuntunku. Ini indah…, bisik ku sendiri. Aku mendengarkan, mengulangnya berulang-ulang, mendengarkan tiap kata dilantunkan dalam melodi pop khas miliknya, sajak yang bersua. Sepertinya aku terlalu lelap, tidak menyadari kalau jemariku menemukan sekotak album Banda Neira untuk dibagi. Ini menyenangkan, sekotak album penuh sajak misteri. Ada banyak kata yang tidak aku mengerti, seperti memiliki arti yang bersandi.

Banda Neira - Di Paruh Waktu

Banda Neira – Di Paruh Waktu

Belakangan aku mengerti kenapa tiap sajaknya seperti misteri. Aku bertemu Kak Rara, Sang Pelantun dari sajak-sajak misteri yang berarti. Ini adalah Banda Neira, rumah berteduh bagi sastra Indonesia, dimana Kak Rara dan Kak Nanda adalah tuan rumahnya. Ini adalah Banda Neira, yang membawa misi menyebarkan berita atas kekayaan sastra Indonesia, dalam tiap sajak-sajak bernada. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaya, bahasa ibu yang sangat kaya ekspresi, namun jarang tersapa oleh anak-anaknya. Ini adalah Banda Neira, membawa pesan dari sang ibu untuk sang anak. Bahwa sesungguhnya ia punya kekayaan yang tidak ternilai harganya, tidak terbatas jumlahnya, yang begitu indah jika saja sang anak mau menyapa.

Aku penyuka sastra sejak kecil, mungkin ini juga yang menarik aku atas kebetulan untuk Banda Neira. Dan sepertinya Banda Neira akan mengisi Mei dengan warna-warna indah. Memberi ruang untuk sekedar beristirahat, dalam pelarian atas tugas – pekerjaan – tantangan yang tak kunjung usai. Ada beberapa syair yang aku suka, cobalah dengarkan:

 

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *