Memanusiakan Manusia

Hari ini hari berkabung untuk Angeline, bagi yang ikut mencari, meski cuma nge-share dari teman satu ke teman yang lain, bersama harapan agar Angeline segera ditemukan, hari ini mungkin mereka menghela nafas panjang, dengan perasaan berantakan :”)

Angeline yang diberitakan menghilang sejak 16 Mei lalu akhirnya ditemukan hari ini 10 Juni 2015. Angeline memang ditemukan namun kita tidak dapat mendengar ceritanya atau sekedar menyapanya untuk mengetahui kalau dia sehat dan sedang baik-baik saja. Seorang Anak yang beberapa bulan terakhir berhasil mengambil perhatian orang-orang disekitarnya, bahkan mereka yang tidak mengenalnya ikut memberikan perhatian kepadanya, lewat senyum kecilnya yang indah yang terpampang bersama selebaran kehilangannya disudut-sudut media.

Angeline hanya seorang anak kecil, yang seperti anak kecil pada umumnya, seperti anak manusia pada dasarnya. Meski hanya seorang anak angkat, namun tetap punya hak yang hakiki sama seperti manusia lainnya sejak ia dilahirkan.  Ia berhak untuk mendapat penghidupan yang layak, ia berhak untuk mendapat pendidikan yang layak, ia berhak angkat bicara, ia berhak mendapat perlindungan yang layak. Seyogyanya demikian berdasar undang-undang, yang dirancang oleh manusia untuk melindungi manusia lainnya. Dan Angeline adalah satu diantara banyak individu yang tidak mendapatkan haknya selayaknya manusia pada dasarnya.

Namun, kehidupan memiliki peraturannya sendiri, seperti biasanya. Adil atau tidak adil, salah atau benar,baik atau buruk memang adalah besaran-besaran yang diciptakan manusia. Dan kehidupan memang akan terus berlanjut seperti waktu yang selalu berjalan tanpa memperdulikan masa atau apa pun di dalamnya. Tapi jika terus berjalan demikian, ini akan mengikis rasa terhadap kepercayaan akan kebenaran. Apakah memang demikian adanya, bahwa yang kuat berhak atas hidup yang lemah. Bukankah kuat dan lemah juga hanya sebuah besaran yang diciptakan manusia, yang mungkin ketiadaanya bisa membuat kebersamaan menjadi lebih indah.

Seandainya dia masih ada mungkin kakak-kakak baik hati yang mencarinya bisa menyapanya, bisa bertanya kabarnya, bisa bilang “Angeline kok senyumnya manis sekali ?” atau “Angeline cita-citanya ingin jadi apa setelah besar nanti ?

Memanusiakan manusia” mungkin kalimat yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan di era ini, selayaknya sebuah impian yang mana perlu perjuangan keras untuk menggapainya, iya perjuangan keras untuk saling menghargai dan saling menyayangi. Aneh bukan, untuk saling menyayangi saja diperlukan perjuangan yang sedemikan tidak mudahnya.

Angeline

Angeline

Selamat jalan Angeline, Dumogi Amor ring Achintya, meski hanya sebentar, meski hanya dari kabar yang disebarkan dari teman ke teman, kamu berhasil mendapatkan perhatian kami dan mengajarkan kami cerita lain tentang kehidupan. Selamat jalan adik kecil dengan senyuman manis yang apa adanya :”)

 

Hari ini saya sependapat dengan kata-kata dari seorang kakak, tentang hidup dan kehidupan itu sendiri:

Life is never fair. Sometimes good, but sometimes it suck. Really sucks. Indeed.

 

 

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

4 Responses

  1. cahyani says:

    Sedih juga Bli denger kabar ini. Pada zaman ini entah kenapa nyawa sepertinya tidak begitu berharga, oknum-oknum tertentu dengan mudahnya menghilangkan nyawa orang lain. Saat ini kita iba, karena Angeline adalah gadis kecil yang masih belum tahu apa-apa.
    Jauh-jauh hari sebelumnya, ada cerita manusia yang dibakar hidup-hidup karena telah merampok.
    Saat ini sebagian manusia mungkin sudah kehilangan prikemanusiaan. 🙁

    • Prikemanusiaan ya, kata-kata indah lagi Cah. Aku tidak mengerti tentang kehidupan, pendidikan agama dan budi pekerti telah diberikan dari kecil oleh sistem pendidikan yang kita terima. Tetapi ternyata tetap tidak mengubah banyak hal tentang prikemanusiaan ke arah yang lebih baik.

      Keadilan itu terasa seperti “Jika kamu punya uang lebih, kamu bisa membuat keadilan atas kehendakmu, jika tidak maka bekerja keraslah untuk itu“. Terkadang juga terasa seperti “Keadilan adalah milik yang kuat dan mayoritas, yang lemah dan minoritas lenyaplah seperti butiran debu“.

      Mereka yang seharusnya menjadi panutan dan tempat berlindung, seperti tidak menempati posisinya dengan baik. Pilar-pilar keadilan yang mulai merapuh membuat kepercayaan masyarakat memudar, dan memaksa mereka membuat hukum atas keadlilan yang mereka anggap benar. Seperti krisis kepercayaan yang memuncak dengan pondasi bayangan keadilan.

      Melihat perkembangan kasus Angeline belakangan ini, Aku tidak mengerti apa yang dicari oleh individu-individu yang membela ketidakbenaran. Kenapa masih ada yang membela mereka yang melakukan kekejaman? Sebegitu pentingnya popularitas dan karir hingga mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan, menyedihkan. Mungkin begitulah beliau-beliau yang terlihat cerdas tersebut menggunakan kecerdasannya untuk menolong individu lain, kecerdasan yang mendegradasi nilai-nilai keadilan atas kemanusiaan.

  2. Semoga pelaku yang sebenarnya ditangkap. Sungguh tragis kejadian ini 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *