Sebuah Catatan di Penghujung Saka 1935

Hari ini pengerupukan, perayaan sehari sebelum tahun baru Saka. Di hari ini setiap warga Hindu merayakannya dengan melakukan persembahyangan bersama di pura keluarga masing-masing. Setelah persembahyangan ini setiap keluarga kemudian keluar bersama-sama dengan para tetangga untuk pengarak ogoh-ogoh berkeliling desa untuk kemudian dibakar di ujung desa. Tujuannya sebagai simbolis penyucian diri dari sifat-sifat jahat untuk mempersiapkan diri menyambut tahun baru Saka keesokan harinya.

Dari kejauhan aku memperhatikan, aku mendengar rauh riang anak-anak yang mengikuti pawai iring-iringan ini. Mereka terlihat begitu bersuka cita. Ada pasukan pembawa obor sebagai penunjuk jalan berbaris di depan iringan, ada yang bertugas mengarak ogoh-ogoh, ada juga yang bertugas melantunkan gambelan khas upacara ini. Anak-anak dan orang tuanya berjalan beriringan bersama-sama. Sebuah pemandangan indah di setiap tahunnya..

Aku tidak ikut dalam pawai ogoh-ogoh, aku beristirahat di rumah bersama bapak, hanya ibu dan adik yang ikut. Aku berniat untuk menghabiskan tiga hari liburanku ini dengan beristirahat dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan pekerjaanku di kantor. Tapi, kenyataannya sampai saat ini aku belum memulainya. Kemarin ada adik sepupu yang meminta tolong untuk dibantu memperbaiki laptopnya, kemudian ada teman-teman baik yang bertamu ke rumah.

Ada banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jika aku hitung, sepertinya jari-jari tangan ku sudah tidak cukup untuk menggambarkannya. Aku ingin segera memulainya, tapi mulai dari yang mana? seolah semua sama urgent-nya. Aku duduk di meja kerjaku, sebuah meja kerja kecil di sebelah tempat tidurku. Aku membuka notebook kesayanganku, dan ternyata tidak juga membuatku tertarik untuk memulai. Pikiranku bercabang, seperti ranting-ranting pohon yang tak terhitung.

Tiba-tiba ada seorang kawan lama menyapa dari jendela kecil jejaring sosial yang aku buka. Kemudian sebuah percakapan singkat terjadi:
Adit: “Hei kawan, apa kabar?” sapa Adit. Adit adalah teman lama yang sekarang sudah sukses bekerja di Jakarta.
Aku: “Baik dit, rahajeng nyepi disana :)” aku menjawabnya dengan sebuah senyuman.
Adit: “Engga ikut ngarak ogoh2.”
Aku: “G dit, aku di rumah sama bapak, di sana ad ogoh-ogoh juga ya ?”
Adit: “Kebetulan engga boleh tahun ini, dekat pemilu.” “O,iya ada rencana kerja d jkt?” tambahnya.
Aku: “Belum ad rencana dit, aku masih bodoh, belum cukup waktu untuk belajar.”
Adit: “Jangan merendah, dulu saya kan juga bli oka yang ngajar.”
Aku: “Iya dit, kadang baterai juga perlu diisi setelah seharian digunakan, dan saya belum dpt kesempatan untuk recharge. Kearasa kok, rasanya bodoh.. bgt.. ingin belajar banyak tapi g cukup waktunya.”

Adit adalah adik kelas yang dulu sempat aku ajar ketika aku menjadi asisten dosen untuk beberapa mata kuliah di kampus. Dari dulu Adit memang berbakat di programming, dia juga salah satu pemenang lomba pembuatan aplikasi windows phone terbaik kala microsoft mengadakan seminarnya di kampus kami. Dan sekarang dia bekerja sebagai seorang software developer di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan microsoft di Jakarta. Senang mendengarnya 🙂

Tunjuk Satu Bintang

Tunjuk Satu Bintang

Setelah percakapan singkat itu, tanpa sengaja aku memandang timeline jejaring sosialku, dan mendapatkan sebuah sajak manis yang di share oleh Cahyani. Sebuah kutipan dari sebuah buku yang berbunyi “Adakah Tuhan sedang memberi jeda untuk kita atau memang tidak ada nama kita dalam takdir-Nya?” Kemudian aku menghening, aku memandang tumpukan buku-buku di perpustakaan kecilku yang belum sempat aku baca. Dan pada akhirnya aku mengeluh lagi, kapan aku bisa membaca buku-bukuku, kapan aku bisa belajar dan menikmati proses belajarku, mengerjakan tugas-tugas kuliahku dengan baik. Tapi, jika aku tidak bekerja, dari mana aku mendapatkan cukup uang untuk membayar kuliahku.

Terkadang aku ingin beristirahat. Seperti tanda koma dalam sebuah paragraf yang membuat sang pembaca dapat sekedar menarik nafas untuk melanjutkan membaca untuk mengetahui indahnya sebuah cerita. Ah tidak ini hanya keluhan atas kemalasanku saja selama ini. Aku kemudian menulis, dan ini adalah catatanku di penghujung tahun Saka 1935.

Apa yang telah aku lakukan di tahun ini pikirku, kemudian pikiranku menelisik mencari-cari lembaran ingatan yang tersimpan di otakku. Harusnya aku bersyukur untuk banyak hal yang telah diberikan ke padaku, untuk nafasku, untuk hidupku, untuk keluargaku, untuk kesempatan yang telah diberikan kepadaku untuk bisa mengenyam pendidikan sampai Magister saat ini, untuk pekerjaan yang selama ini aku impikan, untuk teman-teman yang baik, untuk sahabat, untuk setiap harapan. Aku bersalah selalu mengeluh kepada Mu.

Aku ingin mengucap syukur atas limpahan anugrah yang telah diberikan kepadaku dan keluargaku selama setahun ini. Aku ingin berterimakasih untuk kesehatan yang telah diberikan kepada keluargaku. Maaf aku banyak mengeluh selama setahun ini dan sering lupa untuk mengucap syukur. Selamat Tahun Baru Saka 1936 Oka, semoga di tahun saka 1936 ini bisa lebih bersyukur, bisa lebih dewasa, bisa lebih bijaksana.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *