Sebuah Cerita tentang Pahlawan yang Aku Panggil Ibu

Ibu adalah sosok wanita yang sempurna. Beliau adalah pribadi yang cekatan dalam bekerja, tidak kenal lelah, cermat dan teliti dan cerdas. Wanita yang hangat, ceria dan sangat pandai memasak. Mengerti tentang perkembangan trend, juga seorang teman bercerita yang menyenangkan. Ibu adalah sosok yang tegas, disiplin dan pendidik yang hebat. Tidak memanjakan anak-anaknya, melainkan melatihnya untuk menjadi sosok yang mandiri, berdiri diatas kaki mereka sendiri. Ibu adalah pahlawan saya dan ini adalah sebuah cerita tentangnya.

Ibu lahir dari keluarga sederhana, hidup dipinggiran kota pesisir sebagai seorang anak petani dan pedagang. Beliau adalah anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara. Sebagai satu-satunya anak perempuan tidak lantas membuatnya diistimewakan dengan berbagai fasilitas, malah sebaliknya. Bali yang di masa tersebut masih belum familiar dengan “Emansipasi Wanita” membuat ibu harus berjuang keras untuk mewujudkan impiannya. Dimasa tersebut, seorang anak perempuan tidak dianggap terlalu berharga dibandingkan dengan anak laki-laki karena pada akhrinya akan diambil oleh keluarga lainnya.

Lahir dari keluarga pekerja keras telah membentuk karakter beliau menjadi sosok yang tegas, disiplin dan cekatan. Di masa kanak-kanaknya ibu sudah terbiasa untuk mengambil pekerjaan saat teman-teman sebayanya bermain. Nenek adalah seorang petani dan pedagang canang, jadi pekerjaan ibu sehari-harinya adalah membantu nenek di sawah atau membantu menyiapkan perlengkapan dan membuat canang tersebut. Jumlahnya tidak sedikit, sehari bisa sampai beberapa ratus canang harus disiapkan. Dan semua itu adalah original buatan tangan sendiri. Jangan pernah mempertanyakan kecepatan, karena Ibu tau benar tentang itu dalam sebuah pekerjaan. Membuat sebuah produk yang indah dalam waktu sesingkat-singkatnya, itu bukan hal yang mustahil baginya.

Nenek adalah seorang pekerja keras, dan karena ibu adalah anak perempuan satu-satunya maka nenek sangat bergantung pada ibu untuk membantu menyelesaikan tugas-tugasnya. Sering sekali ibu kehilangan kesempatan untuk belajar demi membantu nenek. Harus bangun pagi-pagi buta untuk membantu berjualan di pasar. Kemudian sepulang sekolah harus membantu mejejahitan kemudian metanding sampai malam tiba. Tidak ada waktu untuk bermain, bermain berarti tidak ada bekal untuk sekolah.

Di jaman itu kesetaraan gender adalah hal yang jarang ditemukan di setiap rumah tangga di Bali. Pria punya pekerjaan sendiri dan wanita pun demikian, sayangnya ada perlakuan pengkotak-kotakan yang membuat wanita dijaman itu tidak mendapat hak seistimewa pria. Jika ibu sehari-hari sibuk dengan pekerjaannya membantu nenek, maka saudara-saudara beliau diijinkan untuk bermain. Jika saudara yang laki-laki diberikan bekal 100 rupiah, maka bekal sekolah ibu dimasa itu hanya 10 rupiah. Jika saudara laki-laki beliau dibelikan motor untuk bersekolah atau jalan-jalan, Ibu hanya punya sebuah sepeda ontel yang terlalu tinggi untuknya. Sebuah sepeda ontel yang setia menemaninya mengantarnya bersekolah atau kadang berjalan menyusuri pantai dari rumah menuju tempatnya bekerja dan sebaliknya.

Ibu hanya seorang tamatan SMP PGRI 5 Denpasar, sebuah sekolah SMP pinggiran dari SMP 2 Denpasar yang merupakan sekolah favorit dijaman itu. Meski demikian beliau bukanlah orang yang terpinggirkan karena kemampuan. Di jaman tersebut anak-anak dari kalangan berpunya memiliki hak yang lebih besar atas sekolah yang lebih baik, meski kemampuannya tidak cukup baik sebenarnya. Dalam hatinya, ibu pernah merasa kecewa atas kenyataan yang beliau terima, namun demikian beliau tetap bersyukur atas kesempatan belajar yang telah diberikan untuknya. Meski hanya tamatan SMP, beliau adalah sosok yang sangat cerdas bagi saya. Beliau sangat suka belajar, beliau ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya. Sayangnya beliau tidak mendapat kesempatan untuk belajar dari keluarga. Kakek dan nenek hanya bersedia membiayai pendidikan ibu sampai tamat SMP. Jika ingin melanjutkan ke bangku SMA maka ibu harus bekerja dan membiayai pendidikannya sendiri. Ibu pernah bercerita bahwa pada masa itu beliau ingin sekali melanjutkan pendidikannya, beliau merasakan kebahagiaan dari proses belajar dan berinteraksi dengan teman-temannya di bangku pendidikan. Beliau bisa melepas lelah atas penat akan banyaknya pekerjaan di rumah yang menanti. Sekolah seperti tempat yang sangat menyenangkan untuknya. Ibu punya ambisi yang besar untuk pendidikan, dan mungkin semangat itulah yang beliau wariskan kepada kami anak-anaknya.

Setamatnya SMP ibu kemudian bekerja, membawa lamaran kerja ke beberapa perusahaan berbekal pengetahuan dan rasa jengah yang dimilikinya. Beliau akhirnya diterima sebagai seorang waitress di sebuah hotel di kawasan Seminyak-Bali. Tempat ini juga tempat dimana ibu dipertemukan dengan bapak. Diterima sebagai seorang karyawati disebuah hotel merupakan sebuah kebanggaan, pekerjaan di sektor pariwisata adalah pekerjaan yang menjanjikan di masa itu. Namun demikian, ini tetaplah pekerjaan dan ibu harus berjalan kaki setiap harinya. Berangkat pagi-pagi seusainya membantu nenek dan pulang di sore hari dengan berjalan kaki menyusuri pantai belasan kilometer jauhnya. Jika panas maka berteduh di pepohonan, jika hujan hanya berbekal payung. Motor adalah barang istimewa yang hanya diperuntukkan bagi anak-anak istimewa seperti halnya anak laki-laki dalam sebuah keluarga di jaman itu.

Bersambung…

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *