Sepenggal Cerita tentang Gigi yang Berhutang

Selasa 30 September 2014, saya mulai berkemas-kemas menyiapkan beberapa potong pakaian dan perlengkapan lainnya untuk menginap. Ada beberapa pasang pakaian yang saya siapkan, untuk saya dan juga adik. Kami akan Mepandes pada Rabu pagi esok harinya, dan sore itu kami harus menjalani ritual Penyekeban di rumah keluarga di kawasan Pura Merajan Agung dan Paibon Bhujangga Waisnawa, Desa Kerobokan.

Mepandes bagian dari Manusa Yadnya. Yadnya sendiri sederhananya dapat diartikan sebagai kurban suci yang tulus ikhlas. Umat Hindu mengenal lima jenis yadnya, yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Rsi Yadnya dan Bhuta Yadnya. Kenapa manusia perlu ber-Yadnya ? Karena manusia lahir ke dunia membawa hutang. Seorang Hindu lahir membawa tiga jenis hutang yang dikenal sebagai Tri Rna. Tri Rna terdiri atas Dewa Rna, Pitra Rna dan Rsi Rna. Ketiga hutang inilah yang melahirkan Panca Yadnya. Dewa Rna menghasilkan Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya, Pitra Rna menghasilkan Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya, kemudian Rsi Rna menghasilkan Rsi Yadnya.

Mepandes

Upacara Mepandes adalah upacara yang berhubungan dengan pendewasaan diri seorang Hindu di Bali. Pada umumnya Upacara Mepandes dilaksanakan setelah seorang anak menginjak masa remaja. Pelaksanaannya biasanya hampir berbarengan dengan upacara menek kelih (Upacara Raja Singa atau Raja Swala)dalam tradisi Hindu di Bali. Dalam Upacara Mepandes, akan dilakukan pemotongan terhadap enam buah gigi dari remaja tersebut. Ada pun gigi yang dipotong (dikikir) adalah empat buah gigi seri dan dua buah taring. Enam buah gigi yang dipotong adalah empat gigi seri bagian atas dan sepasang taring bagian atas. Pemotongan enam buah gigi ini sebagai simbolis untuk menetralisir enam kekuatan jahat yang berada dalam tubuh remaja tersebut. Harapannya nantinya sang remaja dapat mengurangi sifat keraksasaan-nya menjadi sifat yang lebih Dewasa.

Saya dan adik akan mengikuti Upacara Mepandes, itu berarti besok gigi kami berdua akan dipotong sebagai simbolis untuk menetralisir kekuatan jahat yang ada dalam diri kami, agar kami dapat mengendalikannya menjadi kekuatan yang postif dan bermanfaat. Oleh karena Mepandes adalah Upacara yang sangat penting dan berbahaya, maka remaja yang akan mepandes harus mengikuti Ritual Penyekeban sehari sebelumnya. Dan itulah tujuan saya berkemas-kemas hari itu, karena kami harus segera berangkat ke Pura untuk mengikuti Ritual Penyekeban untuk persiapan Mepandes esok harinya.

Perjalanan kami diawali dengan persembahyangan di Pura Merajan di rumah bersama bapak dan ibu. Memohon perlindungan, keselamatan dan tuntunan dari para leluhur. Selanjutnya kami berangkat bersama-sama menuju tempat upacara berlangsung. Prosesi penyekeban diawali dengan ritual pembersihan oleh Pemangku Adat lewat upakara Prayascita dan Byakawon. Kemudian dilanjutkan dengan Upacara Medengen-dengen dan persembahyangan bersama di Pura Paibon. Ada sepuluh remaja yang besok akan Mepandes, dua diantaranya adalah saya dan adik.

Setelah menyelesaikan beberapa ritual di Pura Paibon, kami kemudian dituntun menuju Pura Merajan Agung, untuk kembali melakukan persembahyangan bersama dan mendapat beberapa pembekalan rohani agar kami siap mengikuti prosesi Mepandes esok harinya. Kami mendapatkan pembekalan tentang makna dari Upacara Mepandes, juga bagaimana tata cara pelaksanaannya. Setelah mendapat pembekalan, kami kemudian diajak untuk berkonsentrasi dan berdoa kembali, memohon keselamatan dan perlindungan dari Hyang Kuasa, para leluhur dan saudara-saudara yang lahir bersama kami (Sang Catur Sanak).

Di Bali, Upacara Mepandes adalah ritual yang agaknya cukup berbahaya jika ditinjau dari sisi Supernatural (metafisika). Kami tidak boleh kehilangan konsentrasi sedikit pun selama ritual ini berlangsung. Karena jika tidak, percaya atau tidak, ada kemungkinan kami akan kehilangan “jiwa” kami saat mengikuti prosesi tersebut. Maka dari itu, para pemangku selalu mengingatkan kami untuk selalu berkonsentrasi selama ritual berlangsung. Dan selama Hari Penyekeban tersebut, kami tidak diijinkan untuk keluar dari area yang telah dilindungi apa pun alasannya. Kami dianjurkan untuk melakukan meditasi, atau pun kegiatan-kegiatan yang bermanfaat selama prosesi Penyekeban berlangsung – semalam suntuk.

Rabu 1 Oktober 2014, Saya terbangun dari tidur sekitar jam 01.30 pagi oleh nyamuk-nyamuk yang tidak bersahabat, seperti sebuah alarm penanda pagi sudah hampir tiba. Saya berdiri sejenak, memperhatikan teman-teman yang lain yang masih tertidur yang sesekali mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir sang nyamuk. Saya teringat di tas perbekalan ada lotion penghalau nyamuk, jadi kemudian saya memutuskan untuk menggunakan itu dan membaginya dengan teman yang lain.

Jam menunjukan kira-kira pukul 01.45 Pagi, dan kami berusaha untuk tidur lagi, untuk mempersiapkan stamina untuk Mepandes pagi nanti. Namun, baru beberapa menit kami memejamkan mata, ada suara telpon berdering, mengisyaratkan bahwa para ibu-ibu Salon sudah tiba untuk merias kami, saat itu tepat pukul 02.00 dini hari. Jadi, kami tidak jadi tidur, dan mulai mandi untuk kemudian dirias secara bergantian.

Kami dirias sedemikian rupa, tidak terlalu sederhana namun tidak juga terlalu mewah. Wajah kami dipoles ala penari, menggunakan bedak, pemerah pipi, alis-alis, dan lipstik. Bukan make up yang tebal, mengingat prosesi Mepandes akan dilangsungkan pagi hari. Setelah proses make up selesai, kami kemudian didandani dengan sebuah kamen kuning dengan prada bunga, sebuah kampuh putih dengan motif senada, udeng, gelang sederhana dan bunga hias untuk pemanis.
Mepandes
Pukul 05.00, para orang tua dan keluarga dekat mulai berdatangan, mereka menghampiri anak-anak mereka yang akan Mepandes, menyapa dan menyempatkan untuk berfoto bersama sebelum ritual tersebut dimulai. Saya dan adik melihat paman-paman, bibi-bibi dan adik-adik kami datang untuk menyaksikan kami Mepandes hari ini. Tapi tidak semua keluarga dapat hadir hari itu, Paman yang biasanya berusaha hadir, hari ini tidak dapat hadir karena merawat nenek yang sedang sakit.

Mepandes

Pukul 06.30, Upacara mepandes akan segera dimulai, kami dikumpulkan dalam sebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut terlihat beberapa upakara (banten) dan ada kafan yang membentang dari pintu kamar tersebut menuju tempat prosesi Mepandes berlangsung.

Prosesi mepandes diawali oleh peserta yang umurnya paling tinggi, jadi Saya adalah yang pertama kali dipanggil untuk mengawali Upacara Mepandes ini. Sebenarnya saya tidak terlalu tua, seorang remaja 23 tahun dengan wajah 18 tahun. Tapi berhubung tata caranya demikian, ya.. demikianlah, mengingat peserta lain masih berumur 14 sampai 18 tahun, termasuk adik saya.

Saat berjalan dari tempat tersebut menuju Bale tempat upacara Mepandes berlangsung, saya harus berjalan mengikuti bentangan kafan tersebut dan harus menginjak beberapa banten sebagai suatu simbolis. Saya berjalan dibantu oleh Bapak dan Ibu menuju Bale tempat Mepandes. Sesampai di sana, saya kemudian naik ke tempat tidur yang telah ditentukan, untuk kemudian bersila dan melakukan persembahyangan mengawali ritual potong gigi tersebut.

Selesai persembahyangan, saya dibaringkan di tempat tidur tersebut, badan saya ditutupi oleh beberapa lembar kain dan sebuah Kafan Merajah dibagian atas. Posisi tangan kiri dan kanan disatukan di dada, seperti halnya ketika bersembahyang. Ibu dan Bapak berada disamping saya untuk menyaksikan prosesi tersebut, sekaligus melindungi saya saat prosesi berlangsung.

Setelah saya berbaring dengan baik, Sang Mangku Sangging yang akan memotong gigi saya memberikan saya sebuah tebu untuk digigit selama proses potong gigi berlangsung. Tebu tersebut saya gigit menggunakan geraham, dan setelah Mangku Sangging tersebut merasa saya telah siap, beliau mulai mengikir ke enam gigi saya.

Awalnya saya berpikir prosesi pengikiran gigi ini hanya berlangsung hanya sekali. Ternyata salah, prosesi ini berlangsung hingga tiga kali. Dan ini cukup membuat gigi saya terasa agak ngilu. Bagaimana tidak, beliau mengikir gigi saya dengan penuh semangat. Sepertinya cukup untuk membuat saya untuk menjerit jika prosesi ini berlangsung lebih lama. Prosesi pemotongan gigi ini dimulai dari empat gigi seri di bagian atas, kemudian taring, dan perataan agar susunan gigi tersebut terlihat rapi dan indah. Setiap sebuah fase pemotongan selesai, saya harus berkumur menggunakan Tirta yang dicampur Yeh Bungkak, kemudian bercermin. Ini berlangsung tiga kali, dan diakhir sesi tersebut gigi yang tadi dipotong dioleskan tembakau kering dan sirih untuk menguatkannya.

Prosesi potong gigi pun berakhir, saya kemudian kembali menuju kamar suci dengan dibantu oleh ibu dan bapak. Di sana saya bertukar cerita kepada adik-adik yang masih menunggu giliran metatah, berusaha membuat mereka terhibur agar tidak takut menghadapi prosesi potong gigi tersebut. Kebetulan adik saya mendapat urutan ke tiga dalam prosesi potong gigi setelah saya. jadi waktunya cukup untuk menjelaskan apa saja yang nantinya akan dilakukan di Bale tersebut agar dia tidak kebingungan.

Pukul 09.30 Pagi, prosesi potong gigi selesai dilakukan. Kami bersepuluh sekarang memiliki gigi yang lebih rapi dari sebelumnya. Namun, upacara Mepandes belumlah selesai. Kami masih harus metatab dan melakukan persembahyangan lagi, untuk berterima kasih atas lindungan Hyang Kuasa selama prosesi berlangsung. Kami kembali duduk bersama, didampingi para orang tua melakukan prosesi metatab dan persembahyangan bersama.

Mepandes

Kira-kira pukul 11.00, prosesi metatab dan persembahyangan tersebut selesai dilakukan, mengakhiri prosesi Mepandes hari ini . Kami diijinkan untuk mengambil foto bersama keluarga, dan berpamitan dari Pura Merajan Agung dan Pura Paibon menuju rumah masing-masing.

Hari ini saya bahagia, karena saya dan adik telah berhasil mengikuti Upacara Mepandes, sebagai salah satu upacara penting dalam hidup kami sebagai seorang Hindu dengan selamat. Namun, hari ini juga saya bersedih karena beberapa kerabat yang saya harapkan datang, tidak dapat hadir dalam prosesi ini.

Mepandes adalah Salah satu bentuk Upacara Manusa Yadnya yang merupakan kurban suci yang tulus ikhlas yang dipersebahkan untuk membayar hutang kepada para leluhur yang terlahir kembali sebagai wujud rasa terima kasih. Sama seperti masa kini yang tidak akan ada jika tidak ada masa lalu, manusia hari ini tidak akan ada tanpa keberadaan leluhurnya. Hari ini Bapak dan Ibu telah menunaikan kewajiban mereka terhadap leluhur yang mengalami Punarbhawa sebagai anak-anak mereka. Suatu nanti saya juga akan melakukan hal yang sama untuk anak-anak saya dan anak-anak saya akan melakukan hal yang sama untuk anak-anak mereka, berlangsung bersinergi dan berkesinambungan. Dan ini adalah cerita tentang saya dan adik saya, tentang bagaimana kami Mepandes dan bagaimana ia menjadi bagian dari siklus kehidupan.

Mepandes

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *