Tukik-tukik Petualang dan Lumpur Hutan Mangrove

Minggu 27 Juli 2014, ternyata sudah jam 03.15 pagi, saya terbangun dari tidur yang hanya sebentar. Rasanya mata ini masih berat, masih sangat mengantuk dan enggan untuk meninggalkan hangatnya selimut tempat tidur. Namun, harus segera bergegas, bersiap-siap untuk berangkat ke Kabupaten Negara bersama teman-teman yang lain. Hari ini adalah hari pengabdian masyarakat, dimana kami akan melepas Tukik dan juga melakukan penanaman Mangrove di Desa Mendoan, Kabupaten Negara, Provinsi Bali.

Sebenarnya sebelum berangkat saya berencana untuk tidak tidur. Mengingat ada cukup banyak hal yang belum saya selesaikan, lagi pula saya harus bangun pagi-pagi benar. Jadi, malam kemarinnya saya putuskan untuk mengerjakan hal-hal yang belum selesai sambil menunggu pagi tiba. Lucunya saya malah tertidur sejam sebelumnya, dan syukurnya masih bisa bangun meski hampir terlambat.

Kami berangkat dari Denpasar, singgah di Kabupaten Tabanan hingga akhirnya tiba di Negara. Rata-rata jam perjalanan saat itu sekitar empat jam perjalanan. Saat itu sempat lupa arah dan sedikit Off-Road di tengah  pasar di Tabanan kota, mengingat Rute pada siang hari cukup menjadi berbeda jika dibandingkan dengan saat gelap (ini berlaku untuk seseorang yang tidak familiar dengan medan, seperti saya). Selama perjalanan sesekali terlihat keluarga kecil yang sedang berangkat mudik ke kampung halaman, sebuah hipotesa sederhana karena beberapa hari lagi adalah perayaan Idul Fitri. Sesampainya di Kabupaten Negara, tidak lupa kami singgah ke Pura Rambut Siwi untuk bersembahyang, memohon keselamatan perjalanan. Dan perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Mendoan.

Sampai di tempat penangkaran Tukik, kami disambut dengan hangat oleh anak-anak pecinta alam di daerah tersebut. Bapak pemandu memberikan arahan tentang bagaimana sebaiknya pelepasan Tukik dilakukan. Kami dikumpulkan dan membuat barisan, berjejer sedemikian rupa. Selama pelepasan Tukik, diharapkan dilakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti Tukik-tukik kecil tersebut. Dalam pelepasan Tukik dihimbau agar kami tidak langsung membawanya ke air laut, namun membiarkan mereka melatih insting untuk bergerak, berjalan perlahan menuju rumah mereka di laut lepas. Sesekali boleh saja kami membantu, tetapi tidak banyak agar mereka mandiri. Ada Tukik yang sangat bersemangat, berlari cepat menuju laut lepas, ada juga yang terlihat enggan untuk melangkah, sesekali mereka yang sudah berlari jauh terhempas kembali oleh ombak pesisir pantai. Mereka yang tidak menyerah, kembali berlari menuju dunia baru. Dari puluhan tukik yang dilepaskan, mungkin hanya beberapa yang dapat bertahan hidup, berjuang menghadapi tantangan seleksi alam. Perjalanan mereka masih panjang, dan hari ini mereka mengambil langkah awal yang mengawali petualangan besar dalam hidup mereka.

Tukik-tukik Petualang

Tukik-tukik Petualang

Ini benar-benar mengesankan, melepas Tukik-tukik kecil dan berharap mereka bisa tumbuh besar dan kuat, dan kembali lagi membawa generasi mereka yang baru beberapa puluh tahun kemudian. Jika suatu nanti bisa bertemu, apakah mereka akan mengenali saya ? Mungkin bisa jika mereka berevolusi menjadi Teenage Mutant Ninja Turtles, pikir saya dalam khayalan.

Perjalanan hari ini masih belum usai, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah penanaman mangrove di sebuah area dekat daerah yang nantinya akan dijadikan bandara. Lokasinya tidak jauh dari lokasi penangkaran Tukik, sekitar lima belas menit perjalanan dengan kendaraan bermotor. Di kiri dan kanan terlihat hamparan tambak, mangrove dan pohon palm. Karena daerah ini dekat dengan bandara, mungkin penanaman mangrove ini selain bertujuan untuk mencegah abrasi pantai, juga bertujuan untuk menjaga dan menguatkan struktur tanah dari bandara itu sendiri kedepannya.

Setibanya di lokasi penanaman mangrove, kami kembali diberikan arahan dari pengelola tempat tersebut. Jadi, tugas kami di sana adalah menyeleksi tanaman mangrove yang telah mati dan menggantinya dengan mangrove yang baru. Di tempat itu kami bergelut dengan mangrove dan lumpur air payau. Rasanya sangat menyenangkan, sudah lama sekali saya tidak bermain di atas lumpur. Kami memilah pohon yang sudah mati kemudian mengantinya dengan yang baru. O iya, salah satu tips menghadapi lumpur adalah “jangan pernah menghadapi lumpur dengan alas kaki” itu adalah hal yang percuma, dan merusak kesenangannya. Cobalah biarkan kaki Anda terbenam dan nikmati sensasinya. Sungguh rasanya menyenangkan, rasanya seperti sebuah perasaan yang menenangkan dari Perthiwi. Lagi pula ini adalah lumpur yang bersih, dalam artian tidak terkontaminasi oleh bahan kimia, dan ini cukup menyehatkan untuk tubuh. Hal ini saya katakan karena ada beberapa diantara kami yang merasa enggan untuk menyapa sang lumpur.

Saya jadi teringat cerita dari bapak, menurut bapak, bisa bermain dengan lumpur sawah membuat anak-anak di jamannya menjadi lebih sehat dibandingkan anak-anak pada jaman sekarang, istilahnya anak-anak di jaman tersebut mendapat “Bayun Tanah” atau energi positif dari Ibu Perthiwi. Berbeda dengan anak-anak jaman sekarang yang cenderung jarang memiliki kesempatan untuk bergaul bergelut dengan alam. Mendapat kesempatan untuk bergaul dengan alam akan membantu melatih tubuh seorang individu untuk beradaptasi dan lebih mengenal alam. Dengan demikian tubuh mereka menjadi lebih resistance terhadap perubahan cuaca yang terjadi, sehingga tubuh menjadi lebih adaptif dan kekebalan tubuh meningkat, sehingga relatif lebih jarang terserang penyakit.

Kru Pelepasan Tukik, Anak Penyu di penangkaran Desa Mendoan, Kabupaten Negara, Prov. Bali

Bareng teman-teman setelah pelepasan Tukik, Mendoan – Negara

Sepertinya perjalanan hari ini adalah petualangan yang sangat berkesan. Saya belajar dari Tukik-tukik tentang perjuangan hidup, keberanian dalam melangkah dan semangat untuk tidak pernah menyerah. Dan saya dapat menikmati kembali bagaimana menyenangkannya memijakkan kaki di lumpur, sembari bersyukur atas karunia Perthiwi.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *