Tumbuh Bersama Perasaan Dendam? Kenapa Tidak Memilih untuk Bahagia?

“Menurut ramalan, Scorpio adalah zodiak pendendam, jadi apakah kakak seorang pendendam?” seorang teman menanyakan hal itu hari ini kepadaku. Aku berharap aku tidak tumbuh menjadi seorang pendendam, rasanya sakit, sungguh, bukankah demikian?

Manusia itu unik, punya akal pikiran yang membuanya istimewa, memiliki perasaan yang membuatnya manusiawi. Perasaan tumbuh bersama pemiliknya, atau mungkin sebaliknya “sang pemilik tumbuh bersama perasaannya”.

Hari ini aku ingin bercerita tentang dendam, mungkin ini adalah sisi lain dari perasaan. Ada yang mengatakan bahwa manusia lahir membawa tujuh dosa dasar (Seven Deadly Sins atau dalam mitologi Hindu dikenal sebagai Sad Ripu) , yakni Kesombongan, Ketamakan, Iri hati, Kemarahan, Hawa nafsu, Kerakusan dan Kemalasan. Sepertinya perasaan dendam lahir dari beberapa dosa dasar ini.

Hufh… (menghela nafas) hidup bersama kebahagiaan memang indah. Punya keluarga yang baik, selalu rukun, ekonomi berkecukupan, teman-teman baik, pekerjaan yang baik, kehidupan sosial yang berkualitas, siapa yang tidak ingin. Setiap individu sepertinya ingin hidup bahagia. Tetapi tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama, cara untuk mendapatkannya pun tidak sama. Ada yang terlahir dalam kebahagiaan, ada yang harus mencari kebahagiaannya. Ada yang menemukannya dan menyadarinya dengan cepat, ada yang butuh perjalanan panjang untuk menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya bersamanya dalam perjalanan panjangnya selama ini.

Manusia itu membingungkan, sedari kecil kita belajar tentang budi pekerti, bahwa hidup harus saling membantu, saling menghormati, tidak boleh iri, tidak boleh sombong atau menjadi pemalas bukanlah hal yang baik. Namun seiring bertambahnya usia, nilai-nilai budi pekerti ini semakin memudar, ketika kenyataan memberitahu bahwa ada banyak hal yang bisa mengkotak-kotakkan kehidupan. Nilai-nilai budi pekerti ini kemudian terlihat seperti impian yang indah, yang mungkin terlalu indah untuk menjadi nyata.

Ada suatu ketika, dimana kita harus menjadi orang lain hanya untuk bisa diterima oleh individu lainnya. Karena terkadang, ada individu yang hanya menerima individu lain yang memiliki derajad yang sama dengannya. Hei, bukankan individu tidak berhak menilai derajad individu lain dari buah pemikirannya saja, bukankah setiap individu punya derajad yang sama? Kenyataannya tidak demikian 🙂  Seperti permainan, kehidupan pun punya aturan mainnya sendiri.

Tidak adil? Adil menurut siapa? Siapa yang menetapkan standar untuk menyatakan keadilan atau ketidak adilan? Aturan? Siapa yang membuat aturan demikian? 

Perasaan dendam mungkin lahir dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, dari pikiran yang merasa tidak diperlakukan adil. Seperti “Anda merasa sudah bersikap baik kepada dunia, lalu kenapa dunia juga tidak bersikap sama baiknya kepada Anda?” Kemudian Anda akan mulai berpikir bahwa Anda akan membuktikan bahwa Anda lebih pantas untuk menerima kebaikan dari individu mana pun. Alih-alih membuat Anda jadi lebih baik, perasaan tidak terima ini kemudian menutnun Anda untuk berubah demi mencapai pengakuan yang Anda harapkan. Anda berjuang bersamanya, berhari-hari, bertahun-tahun, sampai Anda berada di puncak pencapaian yang Anda inginkan, pengakuan atas Anda, keadilan untuk Anda. Ini adalah bentuk lain dari dendam, yang secara tidak langsung memang mengantarkan Anda mencapai sebuah pencapaian, namun di saat yang bersamaan juga menanamkan benih kemarahan, iri hati, hawa nafsu, kesombongan, kerakusan dan ketamakan dalam hati Anda. Ada banyak hal yang tidak baik yang Anda tanam di hati Anda, yang akar-akarnya menghisap kebahagiaan yang menjadi sari hara dari hati yang Anda miliki. Kemudian apa yang terjadi? Saat Anda mencapai pencapaian tersebut, hanya sedikit kebahagiaan yang tersisa dari hati Anda. Iya, hanya sedikit kebahagiaan yang bisa Anda nikmati. Atau, apakah Anda menikmatinya?

Apakah aku punya dendam? tentu saja dan aku menyadarinya. Ia selama ini ada untukkku, mungkin yang paling setia menemani ku berjuang untuk menggapai impian ku dari pada sang kebahagiaan yang agaknya jarang menghampiriku (kata pikiranku). Aku bertemu dengannya dalam perjalanan kehidupanku selama ini, dari setiap luka yang aku dapatkan setiap aku terjatuh. Ia yang membuatku bangkit lagi dan  bangkit lagi ketika aku terjatuh kembali.

Wahai kebahagiaan tolonglah aku ketika aku terjatuh, sesekali aku ingin menggenggam kehangatan tanganmu seperti kata orang-orang bijak tentangmu, aku ingin memelukmu dan bersahabat denganmu.

Namun, kebahagiaan tidak menjawab kepada ku. Selama aku menunggu kebahagiaan yang tidak kunjung datang sembari berusaha bangkit dengan tanganku sendiri, Sang dendam yang dijauhi orang-orang baik menolongku bangkit dan berdiri kembali. Aku kemudian berpikir, mungkin kami senasib (aku dan sang dendam), sama-sama terpinggirkan. Kebahagiaan hanya untuk orang-orang istimewa yang terpilih. Kemudian, jika kebahagiaan adalah nilai ideal yang dicari banyak orang lalu bagaimana dengan sang dendam? Dia tidak pernah diharapkan, namun tetap datang untuk menolong. Hidup ini kadang selucu itu, namun adakah yang pernah menyadarinya?

Ia yang selama ini menyemangatiku, yang mengatakan:

Ayo kamu bisa, jangan mau kalah, jangan pernah menyerah, tidak ada yang pintar atau bodoh di dunia ini, standar-standar itu hanya diciptakan oleh manusia, patahkan paradigma-paradigma itu, buktikan bahwa kamu juga layak untuk diperjuangkan, buktikan bahwa kamu juga pantas untuk diperlakukan selayaknya manusia, buktikan bahwa kamu juga pantas bahagia…

Ia baik bukan, bahkan mungkin lebih baik dari Sang Kebahagiaan, mungkin karena aku tidak terlalu akrab dengannya, karena selama ini Sang Kebahagiaan hanya hadir di saat-saat istimewa, yang namun demikian aku selalu ingin mengenalnya dan jika diijinkan ingin bersahabat dengannya, mengenalkannya pada teman lama ku, Sang Dendam yang pendiam.

Dendam itu diam, namun bergejolak di dalam. Membuat mu sigap dan juga siaga, bertahan namun juga siap menyerang, melindungi namun kadang juga membahayakan. Mengisi pikiran dengan api semangat namun membekukan hati dengan kekosongan. Didefinisikan sebagai hal yang tidak baik, namun sepertinya tidak benar-benar tidak baik.

Tumbuh bersama perasaan dendam? Kenapa tidak memilih untuk Bahagia? Pertanyaan ini sesungguhnya sulit untuk dijawab, jika saya berhasil menjawabnya dengan baik, mungkin saya adalah seorang pertapa yang sudah memiliki kesadaran akan kehidupan saya di dunia. Pada akhirnya rasa dendam atau pun rasa bahagia akan mengantarkan setiap individu ke pencapaian yang mereka harapkan. Bisa terus bahagia, siapa yang tidak ingin. Namun, karena kita hidup di dunia yang dimana tidak hanya ada kebahagiaan, setiap element yang ada pada akhirnya punya manfaat dan kedudukannya masing-masing, saling melengkapi satu sama lainnya. Api kebencian yang melahirkan dendam pun punya peranannya dalam kehidupan. Jadi, pada akhirnya ini tergantung kebijaksanaan setiap manusia dalam menyeimbangkan komposisi dari setiap elemen.

Ikut hati mati, Ikut rasa binasa. Tetaplah bijaksana seimbang antara hati dan juga pikiran.

I Putu Oka Wisnawa

Honest, wise, forward-looking, inspiring, and competent. I wish I could be like that.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *